Evaluasi Potensi Panas Bumi Daerah Gunung Endut Kabupaten Lebak - Provinsi Banten

Sri Widodo, Dedi Kusnadi, M. Kholid, Yuano Rezky

SARI
 
Prospek panas bumi Gunung Endut secara administratif termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Lebak, Provinsi Banten dan pada posisi geografis daerah penyelidikan terletak pada posisi antara 106°15’22”-106°22’39” BT dan 6°34’4”-6°41’4” LS, Keberadaannya dimanifestasikan dengan adanya mata air panas di Cikawah dan Handeuleum.

Kubah-kubah vulkanik yang terbentuk di sekitar manifestasi Cikawah dan Handeuleum diduga menjadi sumber panas pada sistem panas bumi G. Endut.

Zona permeabel pada Formasi Sareweh dan Cimapag yang terkekarkan dengan kedalaman puncaknya sekitar 1500 m di bawah manifestasi air panas Cikawah dan Handeuleum diduga sebagai lapisan reservoir dalam prospek G. Endut. Luas prospek panas bumi daerah ini ditafsirkan mencapai luas sekitar 11 km2  dengan potensi cadangan terduga sebesar 80 MWe.

Pasokan air meteorik (101 hingga 300 mm/tahun) meresap melalui zona resapan (60%), menjadi cadangan air bawah permukaan yang menopang eksistensi sistem panas bumi daerah ini.

Sebagai bahan Wilayah Kerja Pertambangan diusulkan sekurang-kurangnya area seluas 41 km2, yang mungkin masih bisa meluas atau menyempit dan wilayah ini bisa dicapai dengan kendaraan roda empat.

 PENDAHULUAN
 
Kekurangan pasokan energi listrik di Pulau Jawa merupakan masalah yang cukup serius, sehingga bisa menimbulkan terhambatnya kemajuan, baik di bidang indusri,  pertambangan, dan peternakan. Dalam mengatasi masalah ini Pemeritah telah menggalakkan program energi alternatif sebagai penopang dan pengganti energi fosil untuk pembangkitan listrik. Bahkan pada tahun 2014 diharapkan dapat menghasilkan energi pembangkit listrik sebesar 10,000 MW, yang berasal dari energi alternatif terutama panas bumi. Berbagai upaya telah mlai dilakukan untuk mempercepat realisasi program pengadaan energi pembangkit dari panas bumi antara lain dengan melaksanakan survei pendahuluan dan pelelangan Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) panas bumi serta pembenahan regulasi pengelolaan panas bumi.

Dalam rangka mempercepat terlaksananya program pelelangan WKP, Badan Geologi mempunyai tugas untuk mempersiapkan data-data teknis dan geosains dari seluruh prospek panas bumi di Indonesia yang telah dilakukan survei pendahuluan, sebagai bahan-bahan pelelangan. Salah satu realisasi dari tugas tersebut adalah mengevaluasi hasil survei, seperti di daerah panas bumi Gunung Endut ini.

Daerah panas bumi Gunung Endut secara administratif termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Lebak, Provinsi Banten dan pada posisi geografis daerah penyelidikan terletak pada posisi antara 106°15’22”-106°22’39” BT dan 6°34’4”-6°41’4” LS atau antara 9261000-9274000 mU dan 639000-652000 mS (Gambar 1). Daerah panas bumi dapat dicapai dengan kendaraan roda empat dari Serang atau Rangkasbitung. Lokasi dapat dicapai dengan kendaraan bermotor beroda empat, sekitar 30 km dari kota Rangkasbitung
 
Manifestasi Panas Bumi
Manifestasi panas bumi Gunung Endut berupa mata air panas yang muncul di beberapa lokasi manifestasi di daerah Cikawah dan Handeuleum berlokasi di kaki barat Gunung Endut, yang terdiri dari mata air panas Cikawah 1, Cikawah 2, Handeuleum.

Mata air panas Cikawah 1 dan Cikawah 2 di wilayah desa Sobang yang berada di bagian barat kaki G. Endut bersuhu 53 - 88°C, pH 7.74 - 7.98 dan debit sekitar 5 l/dtk. Mata air panas Handeuleum yang muncul di sebelah barat Cikawah bersuhu air panas 57°C, dengan pH=7.70 dan debit = 3 l/dtk.
 
REVIEW GEOLOGI

Berdasarkan pertimbangan bentuk bentang alam, pola aliran sungai, tingkat/stadium erosi, jenis batuan, kemiringan lereng dan struktur geologi, daerah penyelidikan dikelompokkan menjadi 4 (empat) satuan morfologi yaitu satuan kerucut kompleks (35%), satuan kerucut gunungapi (25 %), satuan perbukitan bergelombang lemah (32 %) dan satuan pedataran (8 %).

Susunan stratigrafi batuan di daerah Gunung Endut dapat dikelompokkan menjadi 16 satuan batuan yang berumur antara Tersier hingga Kuarter. Urutan satuan ini mulai dari tua ke muda adalah Satuan Anggota Sedimen Baduy (Tmd), Anggota Sedimen Bojongmanik (Tmb), Intrusi Andesitik (Ta), Batuan Vulkanik Pra-Endut (Tlpe), Breksi lava G. Kendeng (Tbr), Lava G. Pilangranal (Tlr), Diorit (Td), Granodiorit (Tgr), Breksi Lava G. Pilar (Qbp), Lava G. Pilar (Qlp), Lava G. Endut-1 (Qle1), Aliran Piroklastik G. Endut (Qae), Lava G. Endut-2 (Qle2), Breksi lava G. Endut (Qbe), Lava G. Endut-3 (Qle3) dan Aluvium (Qal). Lihat Gambar 2.

Struktur Geologi yang terjadi di daerah panas bumi Gunung Endut dimanifestasikan dengan adanya kelurusan bukit (lineament), kerucut gunungapi, kelurusan topografi, paset segitiga, gawir sesar, kekar (joint), off-set batuan, cermin sesar (slicken-side), serta munculan manifestasi panas dan batuan ubahan (alterasi).
 
Struktur geologi daerah Gunung Endut ini terdiri dari:
  1. Sesar normal, berarah baratbaratlaut – timurtenggara (NWW-SEE/ N280-300ºE) yang membentuk pemunculan daerah intrusi dan vulkanik Gunung Endut.
  2. Sesar mendatar dan peremajaan normal, berarah timurlaut – barat daya (NE-SW/ N15-25ºE) yang memotong formasi hingga ke batuan dasar (basement) dan pada peremajaannya mengakibatkan munculnya manifestasi deretan mata air panas Cikawah dan struktur di dinding kawah Gunung Endut.
  3. Sesar mendatar dan peremajaan normal, berarah timurtimurlaut – baratbarat daya (NE-SW/ N60-80ºE) yang memotong formasi hingga ke batuan dasar (basement) dan pada peremajaannya mengakibatkan sealing pada manifestasi deretan mata air panas Cikawah.
  4. Kelurusan yang berarah hampir utara - selatan (N-S/ N350-10ºE) dan memotong struktur yang terbentuk sebelumnya.
  5. Sesar mendatar yang berarah baratlaut – tenggara (NW-SE/ N 320-340° E) dan memotong batuan dan struktur yang terbentuk sebelumnya. Struktur ini diduga sebagai media yang memunculkan manifestasi mata air panas Handeleum.

Secara garis besar zona air tanah di daerah penyelidikan dibagi menjadi 3 (tiga) bagian yaitu zona resapan air, zona munculan air tanah dan zona limpasan. Daerah resapan air (re-charge area) mencakup ± 45% dari luas daerah penyelidikan, mempunyai elevasi antara > 80 - 1250 m dpl, berada pada satuan morfologi kerucut kompleks dan kerucut gunungapi. Di wilayah ini sebagian besar air hujan meresap ke bumi melalui permeabilitas (rekahan dan porositas) batuan, selanjutnya terakumulasi menjadi air tanah dalam dan air tanah dangkal (catchment/ reservoir). Daerah munculan air tanah (discharge area) berada pada satuan perbukitan bergelombang lemah dan morfologi pedataran dengan elevasi antara 0 - 80 m dpl yang meliputi sekitar 38% luas daerah penyelidikan.

Daerah limpasan air permukaan (run - off water area) meliputi luas ± 27% dari wilayah penyelidikan yang berada pada satuan morfologi perbukitan bergelombang lemah.
 
REVIEW GEOKIMIA

Kimia Air Panas
Temperatur air panas pada mata air panas di daerah G. Endut berkisar antara 53 - 80ºC, dengan pH netral. Mata air panas Cikawah 1 memiliki suhu tertinggi (88ºC), pH = 7.98, debit = 5 l/detik. Air panas Cikawah 1 bertipe klorida (dari diagram segitiga Cl-SO4-HCO3) yang didukung dengan dijumpainya sinter silika pada batuan andesit di sekitar mata air panas (Gambar 3a).

Diagram segitiga Na-K-Mg (Gambar 3b) menunjukkan bahwa kandungan ketiga unsur tersebut dalam air panas terletak pada zona partial equilibrium. Kandungan unsur chlor, litium, dan boron dalam contoh air panas cukup berimbang berdasarkan diagram segitiga Cl-Li-B, yaitu terletak di posisi tengah diagram (Gambar 3c).

Karakteristik air panas lainnya yaitu pada mata air panas Cikawah 2, Handeuleum dan Gajrug bertipe bikarbonat, dengan perbandingan konsentrasi sulfat dan kloridanya hampir sama dengan bikarbonat.

Kandungan 18O dalam sampel air panas Cikawah 1, Cikawah 2, Handeuleum, dan Gajrug, dari hasil analisis isotop secara siginifikan berada pada posisi sebelah kanan dari garis meteoric water (18O shift). Kondisi ini mengindikasikan telah terjadinya pengkayaan 18O dalam air panas karena reaksi substitusi 18O dalam batuan dengan oksigen-16 (16O) dalam fluida panas, pada saat terjadinya interaksi fluida panas dengan batuan sebelum muncul ke permukaan. Lihat Gambar 4.

Temperatur bawah permukaan di daerah penyelidikan G. Endut berdasarkan persamaan geotermometri NaK diperoleh nilai temperatur 180oC yang termasuk kedalam klasifikasi temperatur sedang.

Konsentrasi Hg tanah (Gambar 5) setelah dikoreksi dengan nilai kandungan H2O-, bervariasi mulai dari 7 ppb sampai dengan 395 ppb dengan nilai background 149 ppb, nilai threshold 230 ppb, dan nilai rata-rata 69. Distribusi nilai Hg tanah memperlihatkan kelompok Hg tinggi (>150 ppb) di sekitar lokasi mata air panas Cikawah. Kelompok nilai Hg 75-150 ppb tersebar pada bagian tengah ke bagian timurlaut daerah penyelidikan, sedangkan kelompok Hg yang kurang dari 75 ppb tersebar pada sebagian besar daerah penyelidikan.

REVIEW GEOFISIKA

Hasil penyelidikan gaya berat menyimpulkan bahwa daerah yang dianggap potensial untuk sumber panas bumi terletak di bagian tengah  terutama di sekitar Air panas Cikawah dan bagian baratdaya  daerah penyelidikan yaitu di sekitar air panas Handeuleum. Dari anomali Bouguer G. Endut terlihat adanya anomali tinggi di bagian baratdaya yang diperkirakan merupakan intrusi batuan beku dan juga sebagai sumber panas untuk daerah panas bumi G. Endut, yaitu di sekitar G. Angkaribung (Gambar 6).
Analisis data tahanan jenis dari suvei geolistrik Schlumberger (Gambar 7) dapat dirangkum sebagai berikut.
a.  Pemetaan tahanan jenis memperlihatkan bahwa daerah manifestasi panas bumi (Cikawah, Handeuleum, dan Gajrug) berada dalam anomali tahanan jenis semu tinggi. Hal ini dimungkinkan berkaitan dengan adanya batuan intrusi yang menembus batuan sedimen yang terbentuk jauh sebelumnya.
b.    Keberadaan batuan intrusi (?) kemudian mengubah batuan sekitarnya sehingga terbentuk batuan alterasi argilik berada pada kedalaman lebih dari lima ratus meter di bawah permukaan. Batuan secara tajam menunjam ke arah baratdaya maupun ke timurlaut,  sampai sekitar 1000 m.

Berdasarkan penyelidikan Magnetotellurik, peta TE-TM pada periode T=0.1 detik menunjukkan nilai sedang (<200 Ohm-m) hampir seluruh lokasi, meskipun terdapat juga nilai < 25 Ohm-m di bagian utara dan tenggara. Kelompok nilai > 200 Ohm-m berbenuk spot kecil di sekitar mata air panas Cikawah dan Handeuleum. Semakin dalam (ditunjukkan pada T=1 detik) kelompok nilai > 200 Ohm-m semakin luas, bahkan hampir memenuhi seluruh area penyelidikan. Pada T=10 detik, sekitar mata air panas Cikawah dan Handeuleum muncul kelompok nilai tahanan jenis > 2000 Ohm-m, sedangkan kelompok nilai > 200 Ohm-m mengalami penyempitan. Lihat Gambar 8. Gambaran ini menunjukkan bahwa di sekitar mata air panas Cikawah dan Handeuleum terdapat batuan beku yang diduga sebagai kubah lava andesit.

Hasil pemodelan 2D TE Mode lintasan 1 dan 2 (Gambar 10), terlihat nilai tahanan jenis tinggi (>200 Ohm) di sekitar manifestasi Cikawah dan Handeuluem yang menyerupai bentuk kubah vulkanik dan kemungkinan juga berfungsi menjadi batuan penudung. Kedalaman batuan ini diperkirakan terdapat pada mulai antara 200 – 600 m dengan ketebalan mencapai 1000 m.

DISKUSI

Morfologi wilayah prospek panas bumi G. Endut didominasi satuan kompleks dan satuan vulkanik yang berbukit terjal hingga luas sekitar 60% dan bukit bergelombang 25%, sehingga tersisa 15% sebagai zona pedataran. Kenyataan ini dapat menjadi hambatan dalam pengembangan dan pemanfaatannya untuk pembangkit listrik.

Konsentrasi klorida dalam air panas merupakan indikasi bahwa fluida ini berasal dari deep water. Fluida uap panas tersebut berhubungan dengan sumber panas bumi yang berinteraksi dengan batuan di sekitarnya dan terjadi pencampuran dengan air permukaan, sehingga pemunculannya sebagai mata air panas yang bersifat netral (pH = 7.98) di permukaan tanah.

Sumber panas yang merupakan pemasok panas ke dalam reservoir diduga merupakan sisa panas yang berasal dari kubah-kubah di bawah manifestasi Cikawah dan Handeuleum. Kubah-kubah ini diindikasikan dengan adanya zona tahanan jenis tinggi (> 2000 Ohm-m) dari survei MT (Gambar 11).
Zona reservoir terletak di zona kekar pada batuan Formasi Sareweh dan Cimapag yang permeabilitas cukup baik. Lapisan perangkap air panas diduga berada di kedalaman > 1000 m  hingga kedalaman yang belum diketahui di bawah manifestasi Cikawah dan Handeuleum. Reservoir panas bumi diperkirakan berada di bawah kubah vulkanik pada kedalaman sekitar 1500 m.

Batuan penudung berupa impermeable lithocap berupa volcanic lithocap dan clay-cap pada kontak sentuh antara batuan host - rocks dengan fluida panas di kedalaman manifestasi Cikawah dan Handeuleum. Dari data geolistrik, batuan penudung berupa claycap diperkirakan berada di kedalaman ?500 m dengan ketebalan belum diketahui. Data ini dikoreksi dengan data magnetotellurik yang menunjukkan bahwa kubah vulkanik yang menjadi batuan penudung diperkirakan terdapat pada kedalaman antara 200 – 600 m dengan ketebalan mencapai 1000 m. Transfer panas didominasi aliran konveksi pada fluida reservoir (air panas, gas ataupun uap).

Fluida Reservoir Panas Bumi
Fluida panas di kedalaman manifestasi secara konveksi teralirkan naik kepermukaan melalui batuan permeabel sebagai mata air panas dengan pH relatif normal.

Pemunculan air panas Cikawah yang berupa mata air panas bertemperatur cukup tinggi dan bertipe air klorida, menunjukkan bahwa mata air panas di daerah Cikawah diperkirakan terletak pada zona upflow(?) dengan sistem reservoir yang didominasi air panas (water heated reservoir), sedangkan air panas Handeuleum yang bersifat bikarbonat terletak pada zona outflow dengan sistem reservoir yang juga didominasi air panas (water heated reservoir).

Area prospek panas bumi
Pada peta kompilasi geosains memberikan indikasi bahwa daerah prospek dicirikan dengan sebaran tahanan jenis tinggi yang tersebar di sekitar mata air panas Cikawah dan Handeuleum, meluas ke arah Gunung Bongkok dan sedikit ke arah Gunung Endut dengan luas sekitar 11 km2. Sistem panas bumi di daerah ini diperkirakan terdapat di kitaran kompleks kubah vulkanik. Pada lokasi tertentu (bagian tengah) kubah vulkanik (lava) juga brfungsi sebagai batuan penudung, dan batuan perangkap panas (reservoir) diperkirakan berada di bawah kubah vulkanik tersebut. Tetapi di sekitar sebaran kubah reservoir ini ditudungi oleh batuan bertahanan jenis rendah (< 20 Ohm-m) yang kemungkinan adalah batuan sedimen.

Estimasi Potensi Energi Panas Bumi
Estimasi potensi energi panas bumi ditentukan dengan metode volumetrik (Lump Parameter) dan mengambil asumsi: tebal reservoir = 2 km, recovery factor = 50%, faktor konversi = 10%, dan lifetime = 30 tahun. Dengan luas daerah prospek panas bumi Gunung Endut (A) = 11 km2, temperatur bawah permukaan 180oC, dan temperatur cut-off diasumsikan sebesar 150oC, maka potensi cadangan energi terduga panas bumi di Gunung Endut sebesar ? 80 MWe.

Akses Wilayah
Wilayah prospek panas bumi G. Endut ini mempunyai sarana jalan yang cukup baik. Disini telah tersedia jalan beraspal yang dapat dilalui oleh kendaraan beroda empat sampai ke kampung-kampung terpencil. Tetapi yang perlu mendapat perhatian adalah kondisi jalannya yang sudah banyak mengalami kerusakan akibat hujan, dan sanitasi yang kurang memadai.
 
USULAN WILAYAH KERJA PERTAMBANGAN

Beberapa kriteria yang menjadi pertimbangan di dalam penentuan area untuk usulan WKP antara lain:

Wilayah yang dapat diusulkan sebagai Wilayah Kerja Pertambangan sekurang-kurangnya meliputi luas sekitar 41 km2 (Gambar 9). Areal ini dapat berkembang lebih luas atau lebih sempit karena belum memperhitungkan faktor lain seperti tata guna lahan, keekonomian dan sebagainya.

KESIMPULAN

Sumber panas pada sistem panas bumi G. Endut diperkirakan berasal dari sisa panas yang berupa kubah vulkanik di sekitar manifestasi Cikawah dan Handeuleum.

Reservoir yang merupakan perangkap sistem fluida bawah permukaan diduga berada di zona permeabel pada Formasi Sareweh dan Cimapag yang terkekarkan dengan kedalaman puncaknya sekitar 1500 m di bawah manifestasi air panas Cikawah dan Handeuleum. Secara horisontal, luas prospek panas bumi daerah ini identik dengan sebaran kubah vulkanik yang mencapai luas sekitar 11 km2. Potensi cadangan terduga yang mungkin untuk membangkitkan listrik adalah sebesar 80 MWe.
Pasokan air meteorik (101 hingga 300 mm/tahun) meresap melalui zona resapan (60%). Zona akumulasi yang bersistem air panas tersebut.

Untuk bahan usulan Wilayah Kerja Pertambangan ditentukan sekurang-kurangnya area seluas sekitar 41 km2, yang mungkin masih bisa meluas atau menyempit. Wilayah ini bisa dicapai dengan kendaraan roda empat.

DAFTAR PUSTAKA

Geothermal Departement, Basic Concept of Magnetotelluric Survey in Geothermal Fields. West Japan Engineerring Consultants, Inc.
Telford, W.M. et al, 1982. Applied Geophysics. Cambridge University Press. Cambridge.

Tim Penyelidikan Magnetotelurik, 2008, Penyelidikan Magnetotelurik Daerah Panas Bumi Gunung Endut Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Pusat Sumber Daya Geologi, Bandung. Publikasi terbatas.

Tim Penyelidikan Terpadu, 2006, Penyelidikan Terpadu Geologi, Geokimia, dan Geofisika Daerah Panas Bumi Gunung Endut Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Pusat Sumber Daya Geologi, Bandung. Publikasi terbatas.