Model Keterdapatan Bijih Besi Di Kabupaten Trenggalek Provinsi Jawa Timur

Wahyu Widodo, Bambang Pardiarto

 SARI

 

Lokasi daerah penelitian termasuk di wilayah perbatasan antara Kec. Dongko, Kec. Panggul dan Kec. Munjungan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur.

Metoda penelitian yang dilakukan meliputi pengamatan geologi sepanjang lintasan, pembuatan parit uji dan pengambilan conto baik dari indikasi besi dipermukaan maupun dari parit uji.

Umumnya daerah penelitian merupakan perbukitan berlereng sedang - terjal berketinggian antara 300 m -  900 m diatas permukaan laut.  Geologi daerah ini  disusun oleh kelompok batuan vulkanik - vulkanoklastik  yang dapat disejajarkan dengan Formasi Mandalika berumur Oligo-Miosen. Kemudian   kelompok batupasir yang berubah fasies secara lateral dengan kelompok batugamping kristalin berlapis, masing-masing dapat disejajarkan dengan Formasi Jaten dan Formasi Campur Darat berumur Miosen . Sedangkan batuan andesit porfiritik terlihat menerobos kelompok batuan vulkanik – vulkanoklastik. Struktur geologi yang berkembang di daerah ini adalah struktur perlipatan  dan struktur sesar dengan arah umum timurlaut – baratdaya dan  baratlaut – tenggara.
Lapisan bijih besi  yang ditemukan umumnya  menyisip dalam kelompok batuan vulkanik - vulkanoklastik dan kelompok batupasir tufan yang terdiri atas batupasir, batulanau yang kadang bersifat karbonan.  Didaerah  Tumpak Uni, Kalitelu dan Pandean lapisan bijih besi  terdapat diantara lapisan batuan sedimen dan batuan volkanik dimana lapisan bijih besinya terlihat adanya struktur laminasi.  Di beberapa tempat  lapisan bijih besi berupa magnetit - hematit terlihat adanya bercak-bercak pirit mengisi rekahan . Hasil analisis kimia terhadap beberapa conto bijih besi dari daerah ini menunjukkan kandungan Fe total : 22,0 – 52,70 %.  Potensi sumber daya cebakan bijih besi yang ada di Kab. Trenggalek tetapi tidak termasuk yang ada di ds. Pandean adalah sbb. Sumber daya terunjuk 623.437,37 ton bijih dan sumber daya hipotetik 743.154,51 ton bijih.

Keterdapatan endapan bijih besi ini merupakan model baru yang ditemukan di Indonesia, tipe cebakannya sebagai endapan  sedimenter yang terbentuk pada lingkungan darat - laut dangkal, pengendapannya terjadi bersama-sama dengan pengendapan batuan volkanik klastik. Endapan bijih besi mengalami aktifitas  tektonik berupa pengangkatan dan perlipatan  menyebabkan tersingkapnya bijih besi pada daerah perbukitan didaerah penelitian.
 
PENDAHULUAN

Adanya beberapa singkapan endapan besi di Kec. Dongko berdasarkan hasil kegiatan survei kerjasama antara Dinas Lingkungan Hidup Pertambangan dan Energi Kab. Trenggalek dengan Universitas Gajah Mada.

Maksud penelitian untuk mengetahui gambaran secara rinci keberadaan endapan bijih besi di Kec. Dongko dan sekitarnya, Kabupaten Trenggalek dengan tujuan untuk mengetahui jenis endapan, potensi dan kualitas bijih besi.
Secara geografis daerah kegiatan eksplorasi terletak pada koordinat antara 111° 27’ s.d. 111° 33’ BT dan 8° 12,5’ s.d. 8° 19,5’ LS dan secara administratif termasuk ke dalam wilayah perbatasan antara Kecamatan Dongko, Kecamatan Panggul dan Kecamatan Munjungan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, (Gambar 1).

Metoda penelitian yang dilakukan meliputi pengamatan geologi sepanjang lintasan, pembuatan parit uji  dan pengambilan conto baik dari indikasi besi dipermukaan maupun dari parit uji.

Penyelidik terdahulu yang pernah melakukan penelitian di daerah ini antara lain : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung pada th. 1992 telah melakukan pemetaan geologi bersistem Lembar Tulung Agung (termasuk di dalamnya daerah penelitian). DMR-JICA. telah melakukan pemetaan geologi dan geokimia regional di Pegunungan Selatan Jawa Timur pada th. 2001-2004. Universitas Gajah Mada – Dinas Lingkungan Hidup dan Pertambangan dan Energi Kabupaten Trenggalek pada th. 2004 telah melakukan studi analisis geokimia dan bahan galian di Kabupaten Trenggalek, termasuk diantaranya melakukan studi endapan besi di kawasan ini.
 
Geologi Umum

Secara regional daerah penelitian terletak dalam zona Pegunungan Selatan, geologinya disusun oleh kelompok batuan malihan (sekis dan batugamping malih) berumur Pra Tersier dan batuan-batuan volkanik, sedimen berumur Tersier -  Kuarter.

Urutan stratigrafi Pegunungan Selatan Jawa Timur dari tua ke muda sbb. :  kelompok batuan vulkanik, vulkanoklastik dan batuan sedimen berumur Oligo – Miosen yang masing-masing dikenal sebagai Formasi Mandalika dan Formasi Arjosari. Kelompok batuan berumur Miosen – Pliosen yang tersebar luas dikenal sebagai Formasi Jaten, Formasi Wuni yang umumnya merupakan kelompok batuan vulkanik dan vulkanoklastik, Formasi Wonosari yang umumnya batugamping serta batuan intrusif (diorit, basalt, andesit, dasit). Sedangkan batuan-batuan Kuarter (Pleistosen – Holosen) terdiri dari batuan vulkanik, vulkaniklastik dan sedimen yang belum terkompakkan.

Perlipatan Tersier yang sebagian besar berkembang pada batuan vulkanik dan vulkaniklastik masif dan tidak berlapis, perselingan yang secara sporadis lapisan vulkanoklastik yang sering memperlihatkan perlapisan dan kemiringan lebih kecil dari 30? ke selatan dan barat pada Formasi Wuni dan Formasi Jaten. Arah umum sesar yang berkembang adalah NNE-SSW s.d NW-SE dan sebagian N-S dan E-W.

Berdasarkan hasil penelitian kerjasama Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral dengan JICA/MMAJ tahun 2001 sampai dengan tahun 2003 mineralisasi di Pegunungan Selatan Jawa Timur dapat diuraikan sbb. : Mineralisasi emas, perak, tembaga, timbal dan seng, umumnya teramati pada satuan batuan vulkanik, piroklastik Oligo-Miosen, indikasinya ditemukan di daerah Tempursari (Lumajang), Seweden, Wonotirto (Blitar) dan Prambon, Tugu (Trenggalek).

Geologi Daerah Penelitian
 
Morfologi daerah penelitian, umumnya merupakan morfologi perbukitan berlereng sedang - terjal dengan ketinggian antara 300 m s.d. 900 m dpl.
Urutan stratigrafi daerah penelitian dari tua ke muda adalah sbb. : Satuan batuan vulkanik - vulkanoklastik, yang merupakan perselingan antara batupasir, batulempung pasiran, tufa pasiran, tufa, tufa breksi, breksi volkanik, aglomeratik dengan sisipan lapisan bijih besi dan breksi andesitik, lava andesitik-basaltik. Satuan tersebut dapat disejajarkan dengan Formasi Mandalika berumur Oligo-Miosen (Samodro, H., 1992) dan diterobos oleh batuan andesit (Gambar 2).
 
Satuan batupasir tufan yang umurnya relatip lebih muda dari kedua satuan batuan tersebut disusun oleh perselingan batupasir tufan dengan batupasir lanauan karbonan, serpih, perselingan breksi tufa dan tufa berwarna ungu – kemerahan dengan sisipan lapisan bijih besi yang dapat diamati di ds. Pandean. Berdasarkan sebaran formasi batuan dari peta geologi regional lembar Tulung Agung, satuan batupasir tufan dapat disejajarkan dengan Formasi Jaten berumur Miosen.

Satuan batuan lain yang umurnya relatif sama dan berbeda fasies pembentukannya dengan satuan batupasir tufan adalah satuan batugamping kristalin, berlapis yang dapat disejajarkan dengan Formasi Campurdarat berumur Miosen (Samodro, H., 1992).

Struktur geologi yang berkembang di daerah ini adalah struktur perlipatan (kemiringan lapisan) dan struktur sesar. Struktur perlipatan teramati pada batuan sedimen tufan, perlapisan batupasir tufan berselang seling dengan tufa menyerpih serta pada batugamping (Foto 1 dan Foto 2), umumnya mempunyai jurus kemiringan timurlaut – baratdaya sampai dengan baratlaut – tenggara.

Struktur sesar teramati pada batuan yang mempunyai tingkat kekerasan lebih tinggi dari batuan lainnya (Foto 3). Struktur ini berkembang  ada kelompok batuan sedimen tufan maupun kelompok batuan breksi – tufa andesitik.

Keterdapatan bijih besi
 
Di Kab. Trenggalek bijih besi teramati di Kec. Dongko yang terdapat di ds. Pandean (lokasi tambang  rakyat) dan ds. Watuagung (blok Tumpakuni – Saroliman dan Kalitelu - Bakalan) sedangkan di Kec. Panggul dan Kec. Munjungan masing-masing ditemukan di ds. Ngrambingan dan ds. Sobo (Gambar 3) .

Bijih besi yang  teramati di ds. Pandean  keberadaannya  menyisip di dalam batuan sedimen karbonan  yang terdiri dari batupasir, batulanau yang kadang bersifat karbonan (Foto 3), lapisan bijih besinya menunjukkan struktur laminasi berbutir pasir sedang, berwarna hijau – kemerahan dan terlihat semen silica, struktur laminasi juga ditemukan pada beberapa lokasi bijih besi (Foto 4). Bijih bsei yang  tersingkap di blok Tumpakuni – Saroliman merupakan lapisan yang menyisip di dalam tufa pasiran atau diantara tufa breksi dengan tufa pasiran (Foto 5) dan yang tersingkap di Kalitelu – Bakalan  keberadaannya diantara batuan gunungapi andesitan dengan tufa pasiran (Foto 6). Bongkah-bongkah bijih besi yang ditemukan di ds. Ngrambingan menumpang diatas tufa terkersikkan dengan urat-urat kuarsa berstruktur vuggy – dog teeth.

Potensi Bijih Besi
 
Sebaran bijih besi yang ditemukan didaerah penelitian terdapat di wilayah Kec. Dongko (ds. Pandean dan ds. Watuagung), di wilayah Kec. Panggul (ds. Ngrambingan) dan di wilayah Kec. Munjungan (ds. Sobo). Penghitungan potensi sumber daya bijih besi dilakukan dari semua hasil pengamatan kecuali  yang ada di ds. Pandean,  karena pada saat penelitian berlangsung pada lokasi ini telah dilakukan penambangan rakyat. Diketahui bahwa lapisan bijih besi di ds. Pandean mempunyai kedudukan N 65° E/20° dengan ketebalan 1 s.d  1,2 m.

Penghitungan potensi sumber daya bijih besi yang ada di daerah penelitian dapat dilakukan dengan menggunakan formula berikut ini :
Sumber daya  = P x L x Tebal x BJ = …… ton bijih
P : Panjang lapisan bijih besi dan L : Lebar / hasil perhitungan bila diasumsikan kedalaman 50 m dari singkapan (= 50/sin ?) dimana ?  adalah kemiringan lapisan dan Berat Jenis (BJ) 3,5.

Singkapan bijih besi teramati di ds. Watuagung  diketahui ada 7 lapisan, terdiri dari 6 lapisan di komplek Tumpak Uni - Suroliman (Gambar 2) dan  1 lapisan di Kalitelu – Bakalan, dari hasil pengamatan paritan masing-masing lapisan tersebut mempunyai dimensi sbb. : 
Lapisan 1.    
Parit uji TR. 11 dan TR. 12 yang dilewati lapisan bijih besi 1, menunjukkan kemiringan lapisan 24?, mempunyai dimensi panjang 212,5 m, lebar 122,93 m dan tebal rata-rata 1,4 m, Fe totalnya antara 23,04 -  50 %, SiO2 antara 11,04 % - 35,12 % dan TiO2 13,21 %. Perhitungan sumber daya terunjuk lapisan bijih besi 1 sebesar 128.000,52 ton bijih.
Lapisan 2.    
Parit uji TR. 01 yang memotongnya terlihat kemiringan lapisan 36?, panjang sebarannya 262,5 m, lebar 85,07 m dan tebal rata-rata 1,2 m berkadar 22,28 % Fe total, 42,26 % SiO2 dan 5,08 % TiO2 dan sumber daya terunjuk sebesar 93.784,25  ton bijih.
Lapisan 3.    
Parit uji TR. 16 dan TR. 17 yang melewati lapisan bijih besi 3 menunjukkan kemiringan lapisan 40?, panjang 262,5 m, lebar 77,79 m dan tebal rata-rata 0,55 m. Perhitungan sumber daya terunjuk lapisan bijih besi 3 sebesar 39.306,33 ton bijih dengan kadar  berkisar antara 17,62 – 46,02 % Fe total, 13,06 -  44,18 % SiO2 dan 3,8 – 10,91 % TiO2.
Lapisan 4.   
Parit uji TR.02, TR 05, TR 10 yang hasil analisis kimia menunjukkan kadar 30,88 – 51,26 % Fe total, 8,02 – 33,06 % SiO2 dan 5,98 – 14,76 % TiO2, kemiringan lapisan rata-rata 32?, panjang 225 m, lebar 94,35 m dan tebal rata-rata 1,65 m., maka sumber daya terunjuk sebesar 122.601,22 ton bijih.
Lapisan 5.    
Sebaran lapisan ini yang dipotong oleh bukaan parit uji TR 04, TR. 07, TR. 08, TR. 09 dan TR. 13, mempunyai kadar Fe total 39,36 – 43,64 % dan SiO2 16,38 – 22,97 % dan TiO2 10,48 – 11,75 %; kemiringan lapisannya 180 dengan panjang sebaran lateralnya 562,5 m dan lebar 89,41 m, maka sumber daya terunjuk lapisan ini sebesar 176.034,96 ton bijih.
Lapisan 6.    
Lapisan ini dipotong oleh parit uji TR. 14 dan TR. 18 yang ber kadar 39,81 - 41,49 % Fe tot., 18,0 – 19,15 % SiO2 dan 10,78 – 11,69 % TiO2. Kemiringan lapisan rata-rata 20?, panjang 187,5 m, lebar 161,8 m dan tebal  rata-rata 0,6 m, sumber daya terunjuk 63.710,09 ton bijih.
Jumlah sumber daya terunjuk bijih besi di ds. Watuagung yang terdiri dari 6 lapisan tersebut adalah sebesar 623.437,37 ton bijih.

Singkapan batubesi yang dapat diamati di Kalitelu - Bakalan mempunyai tebal lapisan 2,7 m (0,9 m diantaranya terlihat lapisan besi magnetit – hematit abu-abu kehitaman dan 1,8 m lainnya merupakan besi magnetit – hematit dengan bintik-bintik pirit), panjang lateralnya diperkirakan sekitar 500 m, lebar 153,33 m dan kemiringan lapisan 190. Bijih besi ini menunjukkan kadar 12,96 - 16,88 % SiO2; 44,60 - 50,46 % Fe tot. dan  12,32 - 13,68 % TiO2 maka sumber daya hipotetiknya sebesar 725.654,51 ton bijih.

Bijih besi di Kecamatan Panggul terdapat di ds. Ngrambingan, teramati berupa bongkah-bongkah berukuran 0,2 m s.d. 7 m yang tersebar di sekitar lokasi koordinat 556040 mE – 9086450 mN,  luas sebarannya sekitar 100 m x 200 m. Sebaran bongkah bijih besi tersebut berada di atas batuan vulkanik/tufa terubah (terkersikkan dengan urat-urat kuarsa yang menunjukkan struktur vuggy/dog teeth yang dikelilingi oleh batugamping kristalin. Bijih besi tersebut menunjukkan kadar 5,70 % SiO2; 52,70 % Fe tot. dan 11,77 % TiO2. Dengan asumsi sebaran bijih besi seperti uraian sebelumnya dan kedalaman rata-rata 0,3 m, dianggap persentase bongkah 50 %, BJ 3,5 maka potensi sumber daya hipotetik bijih besi di daerah ini adalah sebesar 10.500 ton bijih.

Di Kecamatan Munjungan endapan besi terdapat di ds. Sobo, posisinya berada di Gn. Puncak pada koordinat 557050 mE – 9085175 mN, ada dua lapisan bijih besi dengan tebal 0,25 m dan 0,15 m yang terlihat dari hasil penggalian parit uji menunjukkan jurus dan kemiringan N 300° E/30°. Batu besi berwarna abu-abu kemerahan (oksidasi), ? pasir sedang – halus, semen silika, sifat kemagnetannya sedang. Hasil analisis kimianya menunjukkan kadar 16,90 % SiO2; 47,63 % Fe tot. dan 13,98 % TiO2. Hasil perhitungan potensi sumber daya hipotetik dua lapisan dengan ketebalan masing-masing 0,25 m dan 0,15 m dan kemiringan lapisan 300, asumsi pelamparan secara lateral 100 m, lebarnya  50 m, maka sumber daya hipotetik lapisan 1 dan 2 adalah 7.000 ton bijih bila BJ nya diasumsikan 3,5.

Jadi secara keseluruhan potensi endapan besi yang ada di Kab. Trenggalek dan tidak termasuk bijih besi di ds. Pandean adalah sbb. : Sumber daya terunjuk di ds. Watuagung adalah 623.437,37 ton bijih dan sumber daya hipotetik di lokasi lain seperti Kalitelu - Bakalan, ds. Sobo dan ds. Ngrambingan adalah 743.154,51 ton bijih.
 
KESIMPULAN

Secara umum endapan bijih besi yang dikenal selama ini adalah endapan bijih besi primer (kontak metasomatik/ skarn), endapan lateritik dan endapan plaser, dari beberapa uraian yang dikemukakan sebelumnya  menyebutkan bahwa keberadaan bijih besi di ds. Pandean  menyisip di dalam batuan sedimen karbonan  berbutir pasir sedang  dengan struktur laminasi yang juga ditemukan dibeberapa lokasi lain, di blok Tumpakuni – Saroliman menyisip diantara tufa breksi dengan tufa pasiran sedangkan di Kalitelu – Bakalan  ataupun di ds. Sobo berada diantara batuan gunungapi andesitan dengan tufa pasiran. Bijih besi yang ada di daerah ini umumnya berupa magnetit - hematit dan di beberapa tempat terlihat adanya bercak-bercak pirit mengisi rekahan pada tubuh bijih besi.

Dari penjelasan di atas dapatlah ditarik kesimpulan bahwa keterdapatan endapan bijih besi di Kab. Trenggalek, khususnya di Kec. Dongko, Kec. Panggul dan Kec. Munjungan merupakan model baru yang ditemukan di Indonesia, keterdapatannya dapat di interpretasikan sebagai endapan bijih besi tipe sedimenter yang terbentuk pada lingkungan darat - laut dangkal, pengendapannya terjadi bersama-sama dengan pengendapan batuan volkanik klastik yang kemudian mengalami aktifitas  tektonik berupa pengangkatan, perlipatan  dan pensesaran serta adanya proses hidrotermal yang menghasilkan mineralisasi sulpida (pirit) mengisi rekahan serta tersingkapnya bijih besi didaerah penelitian  pada perbukitan-perbukitan seperti yang dapat dilihat saat ini.

Potensi sumber daya yang didapatkan merupakan hasil perhitungan dari penelitian semi detail dan  regional sehingga sumber daya yang diperoleh adalah sumber daya terunjuk dan sumber daya hipotetik. Potensi sumber daya bijih besi di Kab. Trenggalek yang tersebar di Kec. Dongko, Kec. Panggul dan Kec. Munjungan kecuali di ds. Pandean adalah sumber daya terunjuk sebesar 623.437,37 ton bijih berkadar Fe total : 22,28 s.d 51,26 %;  SiO2 : 8,02 s.d 44,18 %; TiO2 : 3,8 s.d 14,76 % dan sumber daya hipotetik 743.154,51 ton bijih dengan kadar Fe total : 44,6 s.d 52,7 %; SiO2 : 5,78 s.d 16,90 % dan TiO2 : 11,7 s.d 13,98 % .