“formasi Muara Enim” Formasi Pembawa Batubara Di Cekungan Sumatera Selatan


 
 
Seri Formasi Pembawa Batubara:
“Formasi Muara Enim” Formasi Pembawa Batubara di Cekungan Sumatera Selatan
 
Dikutip dari buku “Soetaryo Sigit, Membangun Pertambangan Untuk Kemakmuran Indonesia” karya Poeradisastra dan Haryanto, “pada tahun 1972 ketika batubara di Indonesia dikira sudah tidak memiliki masa depan, di luar dugaan Shell Mijnbouw, perusahaan dari Belanda berminat menanam investasi di pertambangan batubara di Indonesia”. Mulai tahun 1975 kegiatan eksplorasi batubara besar-besaran dilakukan di Sumatera Selatan dan pada tahun 1978 setelah melakukan kegiatan eksplorasinya diluar dugaan lagi Shell Mijnbouw  mengundurkan diri. Cadangan Batubara yang sudah ditemukan sangat besar tetapi peringkatnya rendah berupa lignit dan sub-bituminus yang saat itu pasarnya belum ada. Batubara-batubara yang ditemukan inilah yang kita kenal sebagai batubara Formasi Muara Enim.
Formasi Muaraenim merupakan formasi pembawa batubara utama di Cekungan Sumatera Selatan. Penyebaran formasi ini sangat luas meliputi wilayah Provinsi Sumatera Selatan, Provinsi Jambi, dan sedikit di Provinsi Riau dan Provinsi Lampung dengan lokasi tipe dapat dijumpai di wilayah Kabupaten Kabupaten Muara Enim. Formasi ini diendapkan selaras di atas Formasi Airbenakat dan secara umum tersusun oleh batulempung, batupasir, batulanau tufaan dan batubara. Umur formasi ini diperkirakan Miosen Akhir – Pliosen. Di beberapa daerah formasi ini di tembus oleh Intrusi Andesit yang mempengaruhi kualitas batubara di dekat lokasi intrusinya tercatat kalori ada kalori batubaranya yang mencapai 7714 cal/gr. Shell Mijnbouw (1978) membagi Formasi Muaraenim atas 4 (Empat) anggota yaitu Anggota M1, M2, M3 dan M4. Pembagian tersebut didasarkan atas keberadaan lapisan-lapisan batubara tertentu pada masing-masing anggota tersebut.
 
Tabel Stratigrafi Sumatera Selatan dengan penjelasan pada pembagian anggota Formasi Muara Enim (modifikasi dari Shell Mijnbouw N. V., 1978 dalam Ibrahim et al., 2017)
 
 

 

Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi (PSDMBP) telah banyak melakukan kegiatan penyelidikan batubara pada formasi Muara Enim. Secara umum data yang dihimpun dari hasil penyelidikan PSDMBP dan juga dari para pemilik ijin usaha pertambangan batubara (IUP) di wilayah Formasi Muara Enim (batas formasi berdasarkan Peta Geologi Regional yang dikeluarkan Pusat Survey Geologi), mencatat bahwa batubara formasi Muara Enim memiliki kualitas batubara rendah hingga sedang dan di beberapa wilayah tercatat memiliki kualitas tinggi, dengan kisaran kalori 4022 – 7714 cal/gr (adb). Data neraca sumberdaya dan cadangan batubara Indonesia 2018, mencatat jumlah sumberdaya batubara Formasi Muara Enim sebesar 42,38 milyar ton dengan rincian sumberdaya hipotetik sejumlah 3,24 milyar ton, sumberdaya tereka sejumlah 12,72 milyar ton, sumberdaya tertunjuk 13,79 milyar ton dan sumberdaya terukur 12,63 milyar ton. Sedangkan untuk cadangan batubaranya berjumlah 9,78 milyar ton  dengan rincian cadangan terkira sejumlah 5,39 milyar ton dan cadangan terukur sejumlah 4,39 milyar ton.

Batubara formasi Muara Enim juga memiliki kandungan gas metana (CBM) yang potensial untuk dikembangkan. Pada tahun 2018, berdasarkan hasil kegiatan eksplorasi PSDMBP dan perusahaan pemegang ijin pengusahaan CBM di Indonesia, PSDMBP  mencatat jumlah sumberdaya CBM pada batubara formasi Muara Enim  sebesar 12,11 Tcf dengan kandungan gas  berkisar antara 0,69 – 150,53 scf/ton. Jumlah sumberdaya GMB tersebut masih bisa bertambah jika lebih banyak kegiatan eksplorasi dilakukan. Saat ini ada perusahaan yang sedang mengajukan persetujuan tahap Plan of Development (POD) pada Formasi Muara Enim ini atau bisa dikatakan selangkah lagi menuju produksi CBM, kita doakan saja semoga era produksi CBM di Indonesia cepat dimulai.
Batubara Formasi Muara Enim ini juga mengandung unsur yang saat ini penggunaannya lekat dengan aktivitas kita sehari-hari, unsur itu adalah Logam Tanah Jarang (LTJ) / Rare Earth Element (REE.) Pada tahun 2018, PSDMBP telah melakukan kajian tentang LTJ pada Formasi Muara Enim. Secara umum, konsentrasi LTJ yang cukup tinggi pada batubara Formasi Muara Enim (total kandungan LTJ sampai 200 ppm), mengindikasikan potensi LTJ yang cukup besar pada fly ash dari PLTU batubara yang menggunakan batubara batubara tersebut. Dengan asumsi pengayaan pada fly ash sebesar 10 kali lipat, diperkirakan kandungan LTJ dalam fly ash batubara dapat mencapai lebih dari 1000 ppm.
Proses distribusi batubara dari wilayah tambang ke pelabuhan umumnya menggunakan jalan khusus yang biasa disebut sebagai hauling road. Namun, distribusi batubara Formasi Muara Enim yang berasal dari konsesi PT Bukit Asam (PTBA) menggunakan sarana jalur Kereta Api yang dikelola PT. KAI. Satu rangkaian pengangkut batubara dapat mencapai 60 gerbong barang sehingga penduduk lokal sering menyebutnya dengan istilah Babaranjang (Batubara Rangkaian Panjang). Batubara dari Stasiun Muara Enim diangkut ke Pelabuhan Tarahan di Lampung dengan melalui Statiun Kertapati di Palembang. Saat ini, PTBA merupakan satu-satunya yang menggunakan sarana Kerta Api untuk pendistribusian batubaranya setelah pada jaman kolonial ini merupakan sarana tranportasi yang diandalkan.