Mineral Bukan Logam Pendukung Industri Solar Cell


MINERAL BUKAN LOGAM PENDUKUNG INDUSTRI SOLAR CELL

Sel Surya atau Solar Cell adalah suatu perangkat atau komponen yang dapat mengubah energi cahaya matahari menjadi energi listrik dengan menggunakan prinsip efek Photovoltaic. Efek Photovoltaic adalah suatu fenomena dimana munculnya tegangan listrik karena adanya hubungan atau kontak dua elektroda yang dihubungkan dengan sistem padatan atau cairan saat mendapatkan energi cahaya. Oleh karena itu, Sel Surya atau Solar Cell sering disebut juga dengan Sel Photovoltaic (PV). Efek Photovoltaic ini ditemukan oleh Henri Becquerel pada tahun 1839. Beberapa keuntungan penggunaan sel surya adalah :
•    termasuk dalam kategori energi terbarukan
•    ramah lingkungan
•    hemat dalam penggunaannya
•    praktis dan mudah dalam perawatan
•    umur masa pakai sel surya yang tahan lama (sampai 25 tahun)
•    cocok untuk daerah beriklim tropis seperti di Indonesia
Bahan dasar pembuatan sel surya ini adalah silikon (Si). Silikon terdapat banyak di bumi dan merupakan unsur kedua terbanyak di kulit bumi setelah oksigen. Silikon tidak dapat ditemukan di alam secara bebas, namun dapat ditemukan di dalam senyawa berupa silikat (Si + O + unsur lain) dan silika (SiO2). Pasir Kuarsa dan Kuarsit merupakan komoditi mineral bukan logam yang mengandung silikon. Sejak tahun 1974 Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi (PSDMBP) telah melakukan penyelidikan untuk komoditi Pasir Kuarsa dan Kuarsit.
Indonesia memiliki potensi yang besar untuk Pasir Kuarsa dan Kuarsit. Berdasarkan data Neraca Mineral Bukan Logam, PSDMBP tahun 2018 sumber daya pasir kuarsa sebesar 24.231.960.974  ton dan sumber daya kuarsit sebesar 3.272.453.255 ton. Komoditi-komoditi tersebut tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia.
Potensi yang besar untuk bahan baku sel surya belum membuat industri sel surya di Indonesia cukup berkembang, masih terdapat beberapa hambatan, hal ini disebabkan oleh beberapa hal :
•    membutuhkan energi listrik yang besar di dalam proses pemisahan silikon dari SiO2
•    harga sel surya yang masih cenderung mahal (> 2 juta rupiah per meter persegi)
•    persiapan instalasi yang cukup rumit
•    membutuhkan baterai dalam ampere besar, sebagai media penyimpan energi listrik yang dihasilkan sebelum didistribusikan ke berbagai penggunaan.
Pada masa mendatang diharapkan industri sel surya di Indonesia dapat berkembang, sehingga sel surya dapat menjadi energi alternatif yang menunjang kebutuhan industri kebutuhan rumah tangga.

#eksplorasi
#geology
#mineral
#solarcell
#energi