Mengenal Formasi Pembawa Batubara Di Sumatra Barat

 Mengenal Formasi Pembawa Batubara di Sumatra Barat


Dalam ilmu geologi, untuk mengklasifikasikan dan memetakan lapisan batuan, para ahli geologi menciptakan unit dasar yang disebut formasi. Formasi adalah sekelompok batuan yang cukup khas dalam penampilannya sehingga seorang geolog dapat membedakannya dari lapisan batuan di sekitarnya. Satu formasi bisa terdiri dari beberapa perlapisan batuan yang memiliki karakteristik litologi, fasies atau sifat serupa lainnya yang sebanding. Penamaan formasi  mengacu pada wilayah geografi dimana formasi tersebut ditemukan. Fòrmasi batuan yang memiliki lapisan batubara di dalamnya di kenal sebagai formasi pembawa batubara.
Formasi Ombilin adalah salah satu formasi pembawa batubara pada Cekungan Ombilin di Sumatra Barat. Sebagian ahli geologi, membagi Formasi  Ombilin menjadi dua bagian, anggota atas dan angota bawah (Kastowo dan Silitonga, 1995). Ahli geologi lainnya menggolongkan anggota bawah formasi Ombilin sebagai Formasi Sawahlunto (Koseomadiata, 1981). Formasi Ombilin tersebar di wilayah Kota Sawahlunto, Kabupaten Sijunjung, Kabupaten Solok dan Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat, dengan penyebaran lapisan batubara terbanyak pada wilayah Kota Sawahlunto.
Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi (PSDMBP) telah banyak melakukan kegiatan penyelidikan batubara pada formasi Ombilin. Secara umum data yang dihimpun dari hasil penyelidikan PSDMBP dan juga dari para pemilik ijin usaha pertambangan batubara (IUP) di Sumatra Barat,  mencatat bahwa batubara formasi Ombilin memiliki kualitas batubara sedang hingga sangat tinggi, dengan kisaran kalori 5246 – 8465 cal/gr. Kualitas batubara yang cukup bagus menjadikan batubara formasi Ombilin menarik untuk ditambang bahkan sejak jaman kolonial. Sejarah mencatat  tambang batubara di kota Sawahlunto  sebagai tambang batubara pertama dan tertua di Indonesia yang beroperasi pertama kali di tahun 1892. Hebatnya lagi, sejak jaman kolonial, karena kualitas batubaranya yang  bagus, batubara formasi Ombilin  tidak hanya ditambang dengan metoda tambang terbuka  (open pit) tetapi juga ditambang  dengan metoda tambang dalam (underground mining).  Data neraca sumberdaya dan cadangan batubara Indonesia  2018, mencatat jumlah sumberdaya batubara Formasi Ombilin sebesar  256,34 juta ton dengan rincian sumberdaya tereka sejumlah 25,44 juta ton, sumberdaya tertunjuk 48,13 juta ton dan sumberdaya terukur 182,77 juta ton. Sedangkan untuk cadangan batubaranya berjumlah 47,39 juta ton dengan rincian cadangan terkira sejumlah 2,95 juta ton dan cadangan terukur sejumlah 44,44 juta ton. Batubara formasi Ombilin juga memiliki kandungan gas metana (CBM) yang potensial untuk dikembangkan. Pada tahun 2018, berdasarkan hasil kegiatan eksplorasi PSDMBP dan perusahaan pemegang ijin pengusahaan CBM di Indonesia, PSDMBP  mencatat jumlah sumberdaya CBM pada batubara formasi Ombilin  sebesar 0,80 Tcf dengan kandungan gas  relatif tinggi  berkisar antara 107,50 – 457,25 scf/ton. Jumlah sumberdaya GMB tersebut masih bisa bertambah jika lebih banyak kegiatan eksplorasi dilakukan.
Setelah tidak lagi beroperasi, komplek penambangan batubara di kota Sawahlunto dijadikan pusat pendidikan tambang dalam dan dikelola oleh KESDM. Pusat pendidikan tersebut adalah satu satunya pusat pendidikan tambang dalam yang ada di Indonesia. Tidak hanya dijadikan pusat pendidikan,  lubang bekas tambang bawah tanah saat ini juga menjadi objek wisata menarik di kota Sawahlunto. Pengunjung bisa datang untuk melihat museum sejarah penambangan batubara di kota tersebut sekaligus juga bisa melihat langsung ke dalam lubang  bekas tambang dalam. Untuk keperluan wisata, pemerintah daerah setempat merenovasi terowongan bekas tambang dalam yang dibangun tahun 1898 menjadi tempat yang layak dikunjungi baik dari segi keamanan maupun kemudahan mencapai area dibawah tanah, dengan membangun anak-anak tangga. Objek wisata tambang dalam di Sawahlunto beroperasi sejak 23 April 2008. Keaslian lubang bekas tambang masih tetap dipertahankan yang dapat dilihat dari bagian atap dan dindingnya yang terbuat dari batu bara.
Pusat pendidikan dan objek wisata tambang dalam di kota Sawahlunto, menjadi contoh, jika dikelola dengan baik, setelah tidak lagi memberikan keuntungan dari sektor tambang, batubara masih bisa memberikan keuntungan dari sektor pendidikan dan wisata.