Panas Bumi Di Sekitar Palu-koro, Potensi Dibalik Bencana

PANAS BUMI DI SEKITAR PALU-KORO, POTENSI DIBALIK BENCANA


Sesar Palu – Koro terletak di Pulau Sulawesi, dan saat ini menjadi fenomena yang sering di perbincangkan di berbagai media karena dampak dari pergerakannya. Sesar ini berarah Baratlaut-Tenggara dan merupakan patahan aktif yang membelah pulau Sulawesi menjadi dua bagian.  Terbentuk akibat pergerakan tektonik aktif Lempeng Eurasia yang didorong lempeng Hindia Australia yang aktif bergerak ke arah utara. Di bagian utara terjadi subduksi  oleh lempeng Filipina terhadap Sulawesi dan di bagian baratnya lempeng Mikrokontinen Banggai-Sula bergerak ke arah Barat sehingga menjadikan sesar Palu – Koro berjenis strike-slip/ sesar mendatar berarah sinistral/mengiri dengan pergeseran 25 - 30 mm/tahun (Kaharuddin drr., 2011).  


Pergerakan sesar di satu sisi bisa memicu terjadinya gempa seperti yang terjadi di Palu. Di sisi lain pergerakan sesar menyebabkan batuan di sekitarnya memiliki permeabilitas yang sangat tinggi. Pergerakan sesar juga bisa menghasilkan energi yang bisa meningkatkan panas batuan disekitarnya. Permeabilitas batuan dan suhu tinggi pada akhirnya bisa menghasilkan akumulasi energi panas bumi.  


Daerah seismik aktif selain panas yang tertransfer bisa terjadi secara konveksi sesuai model panas bumi dalam penelitian Inga, S.Moeck pada tahun 2014 dan secara konduktif akibat batuan granit yang kaya mineral fesldpar dalam menyimpan panas. Kedua proses tersebut berlaku sebagai sumber panas untuk memanaskan air meteorik yang masuk ke dalam permukaan bumi.


Di sekitar sesar Palu-Koro  terdapat  banyak manifestasi panas bumi berupa mata air panas dengan temperatur permukaan bervariasi  antara 37 oC – 100 oC. Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi (PSDMBP) – Badan Geologi telah melakukan penyelidikan panas bumi untuk mengungkap sumber daya panas bumi di sekitar Palu – Koro sejak tahun 2005 dengan melakukan penyelidikan terhadap manifestasi yang diawali melakukan penyelidikan pendahuluan dilanjutkan dengan penyelidikan rinci geologi, geokimia dan geofisika (3G)  serta di beberapa lokasi dilanjutkan dengan pengeboran landaian suhu, seperti di daerah Marana, Kabupaten Donggala dan Bora,  Kabupaten Sigi. Kelengkapan data survei 3G dan Magnetotelurik (MT) juga telah dilakukan di Lompio, Tambu Kabupaten Donggala dan Pincara, Kabupaten Luwu Utara sementara daerah Toro, Gimpu, Kabupaten Sigi baru sampai survei 3G, dan Saluki, Pili di Kabupaten Sigi dan Rampi di Kabupaten Luwu Utara masih berupa data inventarisasi. 

 
Dari beberapa lokasi yang disebutkan di atas, daerah Marana dan Bora merupakan daerah yang paling prospek untuk dikembangkan dan sudah ditetapkan sebagai Wilayah Kerja Panas Bumi dengan nilai sumber daya mencapai 163 Mwe. Semoga dengan sumber daya panas bumi yang ada bisa membawa keberkahan dalam pemanfaatannya di masa datang.


#Panasbumi #Palukoro #Energipanasbumi #PSDMBP