Pengenalan Mineral Grafit, Pemanfaaatan Dan Keterdapatannya Di Indonesia

Pengenalan Mineral Grafit, Pemanfaaatan dan Keterdapatannya di Indonesia

 Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi (PSDMBP) Sharing Knowledge tentang Grafit dalam acara seminar dan diskusi dengan topik “Pengenalan Mineral Grafit, Pemanfaaatan dan Keterdapatannya di Indonesia”, pada tanggal 18 Mei 2018 bertempat di Ruang Rapat Lantanu lantai 2 Gedung B PSDMBP Jalan Soekarno-Hatta Nomor 444 Bandung. Nara Sumber Penyelidik Bumi Pertama, Reza Marza Dwiantara, S.T., dan Moderator Kepala Sub Bidang Mineral Bukan Logam, Ir. Tarsis Ari Dinarna.  Dihadiri oleh Pejabat Struktural, Kepala  Bidang Mineral, Kepala Sub Bidang Mineral Logam dan Bukan Logam serta Pejabat Fungsional Penyelidik Bumi, Perekayasa, Penyelidik Geologi, Teknisi Litkayasa, Teknisi Laboratorium, Analis Laboratorium dan Pranata Humas.

Grafit merupakan mineral native element dengan komposisi C (karbon). Sistem kristal dari grafit adalah heksagonal, merupakan massa berfoliasi atau lembaran-lembaran tipis yang terlepas, struktur opak pada umumnya berwarna hitam. Grafit merupakan dimorphisme dari intan, tetapi mempunyai tingkat kekerasan rendah (1-2), berat jenis 2,23, belahan baik/jelas apabila diraba terasa berminyak. Grafit tidak terbakar dan tidak mudah larut dalam air. Grafit terbentuk pada pada tingkat tinggi dari batuan yang mengandung zat organik, dan juga terdapat pada hidrotermal vein. Grafit sangat umum didapatkan dalam granit, sekis, genis, mika sekis ataupun batugamping kristalin (Sukandarrumidi. 1999).

Mineral grafit pada umumnya diketahui memiliki tiga jenis yaitu: 1) mikrokristalin (amorphous); 2) urat (crystalline lump); dan 3) flake. Penggunaan paling banyak mineral ini pada dunia industri ialah mengenai industri material tahan panas. Kegunaan grafit terutama untuk baterai kering, bahan pencampur pelumas, cat, bahan pembuatan crucibles (tungku pencair logam), sikat dinamo, elektroda untuk proses galvanisasi, bahan pembuatan sepatu rem kendaraan, dipakai dalam industri peleburan baja (foundry) dan pembuatan pinsil.

PRODUKSI DUNIA DAN PASAR GRAFIT GLOBAL 

Produksi dunia mineral grafit tahun 2014 diperkirakan sebesar 1.17 juta ton, dengan negara penghasil terbanyak berasal dari China, India, Brasil, Kanada, Turki, Korea Utara, Turki, Rusia dan negara lain. Dalam pasar grafit global, produk mineral grafit memiliki kisaran nilai jual yang beragam tergantung dari kemurnian konsentrat. Untuk beberapa penggunaan, ukuran crystalline flake menjadi parameter. Untuk pasaran vein graphite memiliki kisaran nilai jual 1.550-2.800 US$/ton, amorphous graphite 430-550 US$/ton, flake graphite 700-10.000 US$/ton, dan synthetic graphite bisa mencapai 950-20.000 US$/ton (George J. Simandl, 2015). 

Tabel 1. Produksi grafit dunia (dalam ribu ton) tahun 2014 (Olson,2015 dalam George J. Simandl,2015)

No

Negara

Jumlah produksi (ribu ton)

1

China

780

2

India

170

3

Brasil

80

4

Kanada

30

5

Korea Utara

30

6

Turki

30

7

Rusia

14

8

Lain-lain

32

KETERDAPATAN MINERAL GRAFIT DI INDONESIA 

Sejauh ini, berdasarkan data izin usaha pertambangan (IUP) milik Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) dari tahun 2014 hingga 2016, hanya terdapat satu konsesi pertambangan mineral grafit. Konsesi tersebut berada di desa Balai Sebut, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat. Selain itu, publikasi umum dalam bentuk jurnal maupun karya tulis mengenai grafit di Indonesia juga masih terbilang jarang. Melihat hal tersebut dapat dikatakan bahwa Indonesia masih belum mengeksploitasi keberadaan mineral grafit di Indonesia. 

Seperti yang diketahui, mineral grafit umumnya terbentuk sebagai hasil dari tahapan metamorfisme (regional maupun kontak) dari sedimen yang kaya akan material organik. Sebagai salan satu contoh grafit jenis flake, diduga terbentuk dari batuan sedimen halus yang kaya akan material organik. Seiring dengan meningkatnya derajat metomorfisme, material karbon tersebut akan terubah menjadi grafit amorphous (C.J. Mitchell.1993). 

Dalam mencari keterdapatan mineral Grafit , formasi geologi batuan malihan dapat dijadikan panduan dalam memilah dan menentukan formasi pembawa mineral grafit. 

Indonesia mempunyai beberapa jalur batuan metamorf terutama terdapat di pulau Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Dengan melihat pada keterdapatannya beberapa jalur batuan metamorfik di Indonesia maka keberadaan mineral garfit menjadi sangat memungkinkan, sehingga kegiatan eksplorasi mineral grafit di Indonesia sangat diperlukan. 

KEPROSPEKAN MINERAL GRAFIT DI PULAU KALIMANTAN DAN PULAU SULAWESI TAHUN 2017 

Berdasarkan kegiatan uji petik keprospekan mineral grafit di Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi, ditemukan formasi batuan pembawa mineral grafit. Litologi yang diduga mengandung mineral grafit tersebut ialah batusabak (Sulawesi) dan batulumpur sabakan (Kalimantan). Batusabak yang ditemukan di Kabupaten Kolaka,Provinsi Sulawesi Tenggara, memiliki warna lapuk abu, warna segar abu kehitaman, berlembar, mikaan, mudah hancur dan memiliki struktur berlapis. Berdasarkan kesebandingan regional, batusabak yang ditemukan berada di Kompleks Mekongga (Pzm), berumur Karbon-Perm (T.O Simandjuntak,dkk. 1993). Sedangkan batulumpur sabakan yang ditemukan di Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat, memiliki warna lapuk hitam, warna segar hitam,terasa berminyak, menempel di tangan, tidak kompak (loose), dan berstruktur masif. Berdasarakan kesebandingan regional, batulumpur sabakan yang ditemukan berada di Kompleks Balaisebut (Ctrb) berumur Karbon-Perm (S. Supriatna,dkk. 1993). Dari hasil analisis RAMAN spektroskopi laboratorium Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi, kedua batuan tersebut terdeteksi memiliki kandungan mineral grafit, karbon, dan kuarsa. 

Ditemukan berada di Kompleks Balaisebut (Ctrb) berumur Karbon-Perm (S. Supriatna,dkk. 1993). Dari hasil analisis RAMAN spektroskopi laboratorium Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi, kedua batuan tersebut terdeteksi memiliki kandungan mineral grafit, karbon, dan kuarsa. 

Hasil evaluasi keprospekan mineral grafit di Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi berupa peta sabuk batuan malihan berumur tua, dengan protolith batuan sedimen yang memiliki kandungan organik yang melimpah. Berdasarkan hal tersebut, keterdapatan mineral grafit kemungkinan terdapat pada formasi batuan malihan berumur tua, dengan protolith batuan sedimen. Sehingga dalam menelusuri prospek keterdapatannya, kegiatan penyelidikan lebih lanjut dapat dilakukan dengan mengevaluasi sabuk atau jalur batuan malihan yang tersebar di Indonesia.

 

Sumber : Pejabat Fungsional Penyelidik Bumi Pertama, PSDMBP 

Penulis : Elang Somantri dan Wiwi Resmiasih

 

 

Gambar 1. Foto mineral grafit (Sumber: http://www.geologypage.com)