Penjajakan Kerjasama Psdmbp Dengan Gtk Finlandia

Penjajakan Kerjasama PSDMBP dengan GTK Finlandia

Dalam rangka pengembangan sumber daya alam dan sektor kebumian, Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi (PSDMBP) berusaha menjajaki kerjasama dengan.Geological Survey of Finland (GTK) melalui penyelenggaraan seminar dengan tema Strategy for responsible peatland management in Indonesia – lesson learn from Finland. Seminar ini diselenggarakan di kantor PSDMBP pada tanggal 19 Maret 2018. Seminar dibuka oleh Sekretaris Badan Geologi, Antonius Radmono Purbo. Selain itu juga dilaksanakan pembahasan draft perjanjian kerjasama yang dilaksanakan pada tanggal 20 Maret 2018 di Bandung, Indonesia. Pembahasan draft ini mengacu pada Memorandum Saling Pengertian antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Finlandia tentang Kerjasama di Bidang Energi Berkelanjutan, Bersih dan Terbarukan yang ditandatangani di Jakarta pada tanggal 3 November 2015. Tim GTK Finland juga melakukan kunjungan ke Museum Geologi didampingi oleh Kepala Bidang Batubara PSDMBP, SS Rita Susilawati. 

Tujuan dari kerjasama ini yaitu kajian ilmiah dan teknis di bidang sumber daya alam dan sektor kebumian serta mempromosikan pembangunan kapasitas atas dasar kesetaraan, timbal balik, dan saling menguntungkan.  Ruang lingkup kerjasama ini meliputi pengembangan manajemen informasi geodata, eksplorasi dan survei bersama, pertukaran pengetahuan dan pengalaman, penelitian bersama terkait dengan sumber daya alam, sector kebumian, dan perubahan iklim, pengembangan kapasitas dan pelatihan.

Mengacu pada laporan Komunitas Gambut Internasional, lahan gambut Indonesia adalah yang terbesar keempat setelah Rusia, Kanada dan Amerika. Tantangan saat ini di Indonesia perlu mengembangkan mekanisme pemanfaatan gambut yang berkelanjutan sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat lokal serta kepentingan pengelolaan lingkungan dan keamanan energi negara. Data pemetaan gambut Badan Geologi diharapkan dapat dijadikan acuan untuk kepentingan pemanfaatan gambut global sebagai sumber energi dengan mendeliniasi wilayah gambut yang akan direstorasi sebagai penyeimbang ekosistem.

Beberapa poin yang dapat dijadikan pembelajaran dalam seminar tersebut, antara lain:
  • GTK merupakan agensi penelitian geosains internasional terkemuka yang beroperasi di bawah Kementerian Ketenagakerjaan dan Ekonomi yang melakukan beberapa pekerjaan konsultasi, menghasilkan data untuk basis geologi, bekerja pada ekonomi mineral, pemetaan, proyek geofisika di seluruh dunia, terutama di Afrika, Asia dan Amerika Selatan. Layanan dan produk GTK berupa pengembangan mineral berkelanjutan, lingkungan binaan, cleantech, digitalisasi, melatih mitra untuk mendapatkan teknologi baru dan pengetahuan baru;
  • Gambut pada awal digunakan sebagai toilet, tempat tidur hewan, dan isolasi bangunan. Ketebalan endapan 7 m menghasilkan bahan bakar dari produksi gambut  50 l/ hari;
  • Tahun 1970-an dan 1980-an karena krisis minyak, pemerintah Finlandia membutuhkan sumber daya energi domestik. Kemungkinan pabrik bahan bakar metanol berbasis gambut diselidiki. Gambut menyediakan ca. 4-7% dari total konsumsi energi. Gambut sebagai bahan bakar untuk pemanasan distrik. Total luas ekstraksi gambut kira-kira 0,08 juta ha kurang dari 1% dari total luas lahan gambut di Finlandia;
  • Database gambut GTK memiliki17.700 mires unik dengan 1,7 titik coring pabrik, data laboratorium. Prosedur standardisasi yang digunakan mulai dari perencanaan hingga distribusi, observasi drainase.  Membuat klasifikasi lahan gambut: 0-5 masih murni. GTK melakukan layanan untuk sumber daya dan penggunaan lahan dengan peralatan modern seperti GPR, drowne;
  • GPR dan aplikasi drone biasanya digunakan untuk produksi (bekerja sama dengan industri). Kemudian gunakan coring untuk membuktikan datanya. Sistem pembersihan lahan yang digunakan di Finlandia menggunakan gravitasi untuk membuang air dari lahan gambut;
  • Total lahan gambut Indonesia 14.91 juta ha (Ritung, et.al,). Kebakaran hutan merupakan salah satu masalah di lahan gambut di Indonesia. Badan Restorasi Gambut (BRG) didirikan tahun 2016 untuk mempercepat pemulihan dan pemulihan lahan gambut terdegradasi di Indonesia. BRG ditargetkan untuk melaksanakan restorasi di lahan gambut di 5 provinsi di Kalimantan dan Sumatera hingga 2020. Program pemulihan meliputi membasahi, revegetasi, revitalisasi gambut. Moratorium hutan alam primer dan lahan gambut berdasarkan Inpres no 6 tahun 2017;
  • Gambut di daerah tropis berbeda dengan gambut di daerah yang memiliki 4 musim seperti Finlandia. Pengatur lahan hanya untuk pertanian / budidaya dan konservasi untuk> 3 m. Belum ada peraturan yang mengatur gambut untuk energi. Perlu ada regulasi baru;
  • Kebutuhan untuk memproduksi lebih banyak makanan, ditambah dengan permintaan akan lebih banyak energi, menciptakan stimulus untuk merebut kembali kawasan gambut yang luas di daerah tropis yang sering merupakan sumber daya lahan yang belum dimanfaatkan. Tidaklah bijaksana untuk mengabaikan tuntutan ini dan adalah pragmatis untuk menerima bahwa rawa gambut akan semakin dieksploitasi di masa depan untuk pertanian, termasuk padang rumput, kehutanan dan ekstraksi;
  • Di sisi lain, pemerhati lingkungan memperingatkan terhadap eksploitasi skala besar dan berusaha melestarikan ekosistem unik ini sebanyak mungkin. Masih ada waktu untuk merenungkan pertanyaan tentang apa yang paling masuk akal untuk menggunakan sumber daya alam ini. Jika lahan gambut harus dilestarikan, mungkin masuk akal untuk eksploitasi untuk berjalan seiring dengan konservasi.
Penulis: Qomariah, Eko Budi Cahyono, Soleh Basuki, Rahmat Hidayat
 
 
Foto Bersama Seminar Gambut 19 Maret 2018
 
 
Pembahasan Draft Perjanjian Kerjasama PSDMBP dan GTK