Aplikasi Pengembangan Analisis Geokimia Panas Bumi

Aplikasi Pengembangan Analisis Geokimia Panas Bumi

Dalam rangka pelaksanaan pengembangan kerjasama PSDMBP-Badan Geologi dengan MFAT New Zealand tentang “Support for Accelerating Geothermal Development in Indonesia“, New Zealand menunjuk Jacob untuk memberikan Training Geokimia Panas Bumi yang meliputi teknik pengambilan contoh dan analisis kimia gas. Training ini berlangsung selama lima hari, tanggal 12–16 Maret 2018. Kegiatan training ini berupa pemberian materi di kelas, praktek pengambilan contoh gas di manifestasi panas bumi Kamojang, Kabupaten Garut, Jawa Barat, analisis contoh gas di laboratorium dan intepretasi hasil analisis kimia. Selain itu juga dilakukan pembahasan geokimia untuk beberapa lapangan panas bumi yang telah disurvei oleh PSDMBP untuk mendapatkan masukan dalam menentukan karakteristik panas bumi daerah tersebut.
 
Delegasi dari Jacob terdiri dari : Bryan Lovelock, Ryan Libbey, Jane Brotheridge, Ana Prestage, Arvin Putranto dan Abinendra Bismoyo. Adapun peserta training dari PSDMBP sebanyak 10 orang dari Bidang Panas Bumi terdiri dari 5 ahli geokimia, 5 ahli geologi dan 3 ahli analis kimia bagian Laboratorium. Kegiatan training dimulai tanggal 12 Maret 2018 bertempat di ruang rapat Travertin di buka oleh Kepala Bidang Panas Bumi Ir. ArifMunandar.
Training geokimia dimulai dengan diskusi mengenai kebutuhan kapasitas ahli geokimia di PSDMBP yang perlu ditingkatkan terkait metoda geokimia dalam survei panas bumi. Setelah itu dilanjutkan dengan pemberian materi oleh Bryan Lovelock dan persiapan untuk praktek pengambilan contoh gas di lapangan. Setiap peserta diwajibkan mengikuti prosedur preparasi di laboratorium termasuk dalam penyiapan peralatan seperti mevaccum botol dan mengisinya dengan cairan kimia yang dibutuhkan. Para peserta belajar mengenai teknik yang benar sejak dari preparasi alat hingga teknik pengambilan contoh dilapangan untuk menghindari kesalahan seperti terjadi kontaminasi dan juga terkait dalam keselamatan kerja.
  
Kegiatan Pengambilan sampel dilakukan di Lapangan panas bumi Kamojang. Lapangan ini dipilih karena memiliki manifestasi gas dengan tekanan tinggi dan juga gas dengan tekanan rendah serta gas-gas yang keluar di dalam kolam air panas (bubling gas). Selain itu dapat dilakukan perbandingan hasil penghitungan temperatur reservoir hasil penghitungan dengan geothermeter gas denngan temperatur reservoir terukur yang dilakukan oleh PT Pertamina. Untuk meyakinkan hasil analisa beberapa conto gas dikirim ke laboratorium Thermochem untuk dianalisis dan hasilnya nanti akan dibandingkan dengan conto yang dianalisa di laboratorium PSDMBP.
  
Beberapa kelemahan penggunaan geothermometer gas dibandingkan dengan geothermometer contoh air karena teknik pengambilan gas lebih rumit dan rawan kontaminasi. Dari pengalaman di beberapa lapangan panas bumi penggunaaan geothermometer gas sering menghasilkan estimasi temperatur yang lebih tinggi. Geotermometer gas akan sangat akurat apabila didukung dari akurasi sejak preparasi, pengambilan contoh hingga analisis di laboratorium. Diskusi untuk studi kasus di pilih beberapa daerah panas bumi seperti Candradimuka (Dieng), Gou Inelika, Sampuraga, Bituang, dan Sorik Marapi.
  
Dengan diadakannya kegiatan ini maka diperoleh gambaran jelas mengenai prosuder preparasi tabung yang akan digunakan dalam pengambilan conto, preparasi titik lokasi pengambilan conto dan bagaimana pengambilan conto gas terutama pada titik sampel bubling gas maupun pengambilan conto isotop He. Pengembangan metoda pengambilan contoh gas dan bubling gas dapat meningkatkan metoda survei geokimia dan analisis geothermometer panas bumi.
 
Penulis: Rina W, Winda N, dan Iwan Nursahan (PSDMBP)
 
 
Preparasi Botol untuk Sampling
 
 
Pemberian materi pengambilan sampel gas
 
 
 Pengambilan sampel gas di Kawah Hujan, Kamojang